Senin, 27 Juni 2011

Pengembangan dan Pemanfaatan Modul dalam Pembelajaran

Muhammad Basir Matondang
(Mahasiswa Jur. Bahasa dan Sastra Indonesia, NIM. 071222110055)
(Anggota Senat Mahasiswa FBS UNIMED 2009/2010 dan 2010/2011)
(Anggota Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia [ILMIBSI])

Pengembangan dan Pemanfaatan Modul dalam Pembelajaran

A. Pengembangan Modul
Pengembangan menurut KBBI adalah cara, atau perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dengan menggunakan media-media tertentu dalam rangka pencapaian mutu dan kualitas sesuatu.
Modul adalah suatu cara pengorganisasian materi pelajaran yang memperhatikan fungsi pendidikan. Strategi pengorganisasian materi pembelajaran mengandung squencing yang mengacu pada pembuatan urutan penyajian materi pelajaran, dan synthesizing yang mengacu pada upaya untuk menunjukkan kepada pebelajar.
Keterkaitan antara fakta, konsep, prosedur dan prinsip yang terkandung dalam materi pembelajaran. Untuk merancang materi pembelajaran, terdapat lima kategori kapabilitas yang dapat dipelajari oleh pebelajar, yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motorik. Strategi pengorganisasian materi pembelajaran terdiri dari tiga tahapan proses berpikir, yaitu pembentukan konsep, intepretasi konsep, dan aplikasi prinsip. Strategi-strategi tersebut memegang peranan sangat penting dalam mendesain pembelajaran. Kegunaannya dapat membuat siswa lebih tertarik dalam belajar, siswa otomatis belajar bertolak dari prerequisites, dan dapat meningkatkan hasil belajar.
Secara prinsip tujuan pembelajaran adalah agar siswa berhasil menguasai bahan pelajaran sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Karena dalam setiap kelas berkumpul siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (kecerdasan, bakat dan kecepatan belajar) maka perlu diadakan pengorganisasian materi, sehingga semua siswa dapat mencapai dan menguasai materi pelajaran sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam waktu yang disediakan, misalnya satu semester. Di samping pengorganisasian materi pembelajaran yang dimaksud di atas, juga perlu memperhatikan cara-cara mengajar yang disesuaikan dengan pribadi individu.

Bentuk pelaksanaan cara mengajar seperti itu adalah dengan membagi-bagi bahan pembelajaran menjadi unit-unit pembelajaran yang masing-masing bagian meliputi satu atau beberapa pokok bahasan. Bagian-bagian materi pembelajaran tersebut disebut modul.
Sistem belajar dengan fasilitas modul telah dikembangkan baik di luar maupun
di dalam negeri, yang dikenal dengan Sistem Belajar Bermodul (SBB). SBB telah
dikembangkan dalam berbagai bentuk dengan berbagai nama pula, seperti
Individualized Study System, Self-pased study course, dan Keller plan (Tjipto Utomo
dan Kees Ruijter, 1990).
Jadi pengembangan modul dalam pembelajaran adalah cara atau pebuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dengan menggunakan media modul dalam rangka pencapaian mutu dan kualitas yang terbaik dalam pembelajaran.
Rowntree (1999) mengemukakan ada sembilan aspek yang harus diperhatikan dalam mengembangkan modul yaitu :
1.Bantu pembaca untuk menemukan cara mempelajari modul, misalnya dengan megulangi bagian-bagian yang sulit dalam modul dan menerjemahkan kata-kata yang sulit.
2.Menjelaskan kepada pembaca apa-apa saja yang dipersiapkan sebelum mempelajari modul.
3.Menjelaskan kepada pembaca tujuan yang menjadi harapan mereka ketika mereka selesai mempelajari modul yang diajukan.
4.Beri pengantar tentang cara pembaca dalam menganalisis modul.
5.Sajikan materi sejelas mungkin sehingga pembaca dapat menyatukan antara materi di dalam modul dengan materi yang sudah dipelajari.
6.Beri dukungan pada pembaca agar mencoba segala langkah dalam memahami modul yang dipelajari.
7.Libatkan latihan dan kegiatan agar pembaca dapat memahami lebih jauh lagi mengenai materi yang ada dalam modul.
8.Berikan umpan balik pada latihan dan kegiatan yang telah dilakukan.
9.Bantu pembaca dalam merefleksikan dan meringkas materi yang dipelajari dalam modul.

Dari kesembilan hal di atas, Rowntree memberikan empat tahapan penting untuk melanjuti dan perlu dilakukan yaitu :
1.Mengidentifikasi Tujuan Instruksional
2.Memformulasikan Garis Besar Materi
3.Menulis Materi
4.Menentukan Format dan Tata Letak.
Dalam hal Menulis Materi, Rowntree memberikan 11 petunjuk mengenai gaya penulisan yang membantu penyampaian pesan terhadap pembaca :
1.Tuliskan kata-kata seperti kita berbicara agar tidak terkesan kaku bagi pembaca. Dalam tulisan modul tersebut kita harus bersikap sebagai seorang pembicara.
2.Gunakan kata ganti orang pertama seperti anda, saudara, penulis.
3.Bicara langsung dengan pembaca
4.Tulis mengenai orang, benda, dan fakta
5.Gunakan kalimat aktif dan subjek personal
6.Gunakan kata kerja
7.Gunakan kalimat singkat
8.Gunakan kalimat retorika
9.Lakukan dramatisasi jika diperlukan
10.Gunakan paragraph singkat
11.Gunakan ilustrasi, contoh dan kasus.




Dalam hal menentukan format dan tata Letak mencakup dua hal yaitu :
1. Format modul yang benar sebagai berikut :
a. Judul
b. Daftar Isi
c. Diagram Topik
d. Tujuan
e. Pretest
f. Pendahuluan
g. Kaitan Pelajaran lain
h. Heading
i. Pemberian tugas
j. Sign Posting
k. Ringkasan
l. Glossary
m. Post Test
n. Indeks

2. Tata letak (layout) meliputi tiga hal :
a. Ukuran halaman dan format
b. Kolom dan Margin
c. Penempatan tabel, gambar, dan diagram.
A.1. Model Pengembangan Modul

Model adalah sesuatu yang dapat menunjukkan suatu konsep yang menggambarkan keadaan sebenarnya. Model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses. Model merupakan replikasi dari aslinya.
Model pengembangan modul merupakan seperangkat prosedur yang dilakukan secara berurutan untuk melaksanakan pengembangan sistem pembelajaran modul. Dalam mengembangkan modul diperlukan prosedur tertentu yang sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai, struktur isi pembelajaran yang jelas, dan memenuhi criteria yang berlaku bagi pengembangan pembelajaran. Ada lima kriteria dalam
pengembangan modul, yaitu :
(1) membantu siswa menyiapkan belajar mandiri,
(2) memiliki rencana kegiatan pembelajaran yang dapat direspon secara maksimal,
(3) memuat isi pembelajaran yang lengkap dan mampu memberikan kesempatan belajar kepada siswa,
(4) dapat memomitor kegiatan belajar siswa, dan
(5) dapat memberikan saran dan petunjuk serta infomasi balikan tingkat kemajuan belajar siswa.
Teori dan model rancangan pembelajaran hendaknya memperlihatkan tiga komponen utama, yaitu
(1) kondisi belajar, (2) metode pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan tersebut, pengembangan modul harus mengikuti
langkah-langkah yang sistematis.
Langkah-langkah tersebut adalah (1) analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi, (2) analisis sumber belajar, (3) analisis karakteristik pebelajar,
(4) menetapkan sasaran dan isi pembelajaran, (5) menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran, (6) menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran, (7) menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan
(8) pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Langkah-langkah (1), (2), (3), dan (4) merupakan langkah analisis kondisi pembelajaran, langkah-langkah (5), (6), dan (7) merupakan langkah pengembangan, dan langkah (8) merupakan langkah pengukuran hasil pembelajaran.

A.1.a Analisis Tujuan dan karakteristik Isi Bidang Studi
Analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi perlu dilakukan pada tahap awal kegiatan perancangan pembelajaran. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui sasaran pembelajaran yang bagaimana yang ingin dicapai. Secara lebih spesifik, langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui tujuan orientasi pembelajaran, misalnya orienatsi konseptual, prosedural, ataukah teoretik. Di samping itu, juga dimaksudkan untuk mengetahui tujuan pendukung yang memudahkan pencapaian tujuan orientasi tersebut.
Analisis karakteristik isi bidang studi dilakukan untuk mengetahui tipe isi bidang studi apa yang akan dipelajari siswa, apakah berupa fakta, konsep, prosedur, ataukah prinsip. Yang lebih pokok lagi adalah untuk mengetahui bagaimana struktur isi bidang studinya.

A.1.b Analisis Sumber Belajar
Analisis sumber belajar dilakukan segera setelah langkah analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui sumbersumber belajar apa yang telah tersedia dan dapat digunakan untuk menyampaikan isi pembelajaran. Hasil kegiatan ini akan berupa daftar sumber belajar yang tersedia yang dapat mendukung proses pembelajaran.

A.1.c. Analisis Karakteristik Pebelajar
Karakteristik pebelajar didefinisikan sebagai aspek atau kualitas perseorangan berupa bakat, kematangan, kecerdasan, motivasi belajar, dan kemampuan awal yang telah dimilikinya. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kualitas perseorangan yang dapat dijadikan petunjuk dalam mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran, yang hasilnya berupa daftar pengelompokan karakteristik siswa menjadi sasaran pembelajaran.
Untuk mengoptimalkan perolehan, pengorganisasian, dan pengungkapan pengetahuan baru, dapat dilakukan dengan membuat pengetahuan baru itu bermakna bagi pebelajar dengan cara mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Ada lima jenis kemampaun awal yang harus diperhatikan dalam perancangan pembelajaran, yaitu (1) pengetahuan bermakna yang tak terorganisasi (arbitrarily meaningful knowledge), (2) pengetahuan analogis (analogic knowledge), (3) pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate knowledge),(4) pengetahuan
setingkat (kooedinate knowledge), dan (5) pengetahuan tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge). Jenis-jenis pengetahuan awal itu sangat menentukan dalam membangun pengetahuan baru bagi siswa dalam pembelajaran.


A.1.d. Menetapkan Indikator dan Isi Pembelajaran
Langkah ini sebenarnya sudah bisa dilakukan segera setelah melakukan analisis
indikator dan karakteristik isi bidang studi, yang hasilnya berupa daftar yang memuat
rumusan indikator pembelajaran dan struktur isi yang akan dipelajari (Degeng, 1997).
Ada tiga kriteria dalam merumuskan indikator pembelajaran, yaitu
(1) dijabarkan secara konsisten dan sistematis dari subordinat yang terdapat pada bagian analisis pembelajaran,
(2) menggunakan satu kalimat atau lebih, dan
(3) pernyataanyang digunakan sangat membantu dan berlaku dalam penyusunan butir-butir tes.
Indikator pembelajaran yang baik memiliki empat kriteria, yaitu
(1) a subject, yaitu orang yang belajar,
(2) a verb, yaitu kata kerja aktif yang dapat menunjukkan perubahan tingkah laku,
(3) a condition, yaitu keadaan yang diperlukan pada saat siswa belajar, dan (4) standard, yaitu kriteria keberhasilan belajar yang ingin dicapai.
Indikator pembelajaran dimaksudkan untuk membangun harapan-harapan dalam diri pebelajar tentang hak-hak yang harus dikuasai setelah belajar. Dengan kata lain, siswa yang mengetahui sasaran yang ingin dicapai cenderung dapat mengorganisasi kegiatan belajarnya ke arah tujuan yang ingin dicapai, sehingga sasaran pembelajaran dapat memotivasi siswa untuk belajar.

A.1.e. Menetapkan Strategi Pengorganisasian Isi Pembelajaran
Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran segera bisa dilakukan
setelah analisis dan penetapan tipe serta karakteristik materi pembelajaran. Pemilihan
strategi pengorganisasian pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tipe isi bidang studi yang dipelajari dan bagaimana struktur isi bidang studi tersebut. Hasil langkah ini akan berupa penetapan model untuk mengorganisasi isi bidang studi, baik tingkat mikro maupun makro.


A.1.f.Menetapkan Strategi Penyampaian Isi Pembelajaran
Menetapkan strategi penyampaian pembelajaran didasarkan pada hasil analisis
sumber belajar. Daftar sumber belajar yang telah tersedia dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Pada langkah penetapan strategi penyampaian isi pembelajaran, daftar yang telah dibuat tersebut dijadikan dasar dalam memilih dan menetapkan strategi penyampaian pembelajaran. Hasil langkah ini adalah berupa penetapan model untuk menyampaikan materi pembelajaran.


B. Pemanfaatan Medium Modul dalam Pembelajaran
Pemanfaatan adalah proses, cara, perbuatan untuk mendatangkan faedah atau menggunakan modul dalam proses pembelajaran.
Dalam hal pemanfaatan modul dalam pembelajaran adalah mencakup 4 hal yaitu :
1.Sebagai Sumber belajar ;Sumber belajar yang telah disusun secara struktur dan terencana.Pembaca diuntungkan kareba dengan kejelasan struktur materi akan mempermudah pembaca dalam memilih materi
2.Sebagai petunjuk ; Petunjuk untuk memahami materi yang diberikan dan cara mempelajarinya.
3.Sebagai motivator ; Motivator untuk terus membaca dan memahami materi.
4.Sebagai alat ; alat untuk mengukur tingkat pencapaian dalam belajar.

C. Pengembangan dan Pemanfaatan Handout dalam pembelajaran
Handout dapat berisi penjelasan singkat dan atau elaborasi tentang suatu materi bahasan, menjelaskan kaitan antartopik, memberi pertanyaan dan kegiatan pada para pembacanya, dan juga dapat memberi umpan balik dan langkah tidak lanjut. Manfaat handout adalah melengkapi kekurangan materi, baik materi yang diberikan dalam buku teks maupun materi yang diberikan secara lisan.



C.1. Tahap-tahap Pengembangan handout.

a. Mengevaluasi bahan ajar dengan berpatok pada tujuan instruksional.
b. Berdasarkan hasil evaluasi, putuskan materi yang p[erlu dikembangkan dengan menggunakan handout baru, atau pengayaan.
c.Memutuskan isi handout berupa ringkasan
d.Memutuskan cara penyajian : narasi, tabel, gambar, diagram atau kombinasi semua.
Adapun handout dapat dikembangkan dengan beberapa model yaitu :
a.Peta atau diagram
b. Annotated bibiliografi
c.informasi tambahan
d. Memberikan contoh baru dan contoh tambahan
e.Memberikan kasus untuk dipelajari dan diselesaikan.

C.2. Pemnafaatan Medium Handout daklam proses Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, handout dapat digunakan untuk tujuan berikut :
1.Bahan rujukan ; Materi yang disuguhkan harus baru sehingga peserta didik dapat di expose dengan idu mutakhir.
2.Pemberi motivasi ; dapat menyelipkan pesan-pesan yang menimbulkan kesan motivasi.
3.Pengingat ; sebagai pengingat yang dapat digunakan peserta didik dalam mengulas pelajaran yang sudah dipelajari.
4.Memberi umpan balik
5.Menilai hasil belajar ; tes dalam handout dapat digunakan sebagai ukuran dalam hasil pencapaian hasil belajar.

D. Pengembangan dan Pemanfaatan LKS dalam Pembelajaran
1. Pemanfaatan
Melalui LKS kita dapat memancing siswa agar secara aktif terlibat dengan materi yang dibahas. Pemanfaatan LKS adalah dengan menerapkan metode “SQ3R” . SQ3R adalah suatu metode studi yang mencakup lima tahap.
1. Survey : Menyurvei
Misalnya :
Memeriksa secara keseluruhan tugas yang telah diberikan , memperhatikan judul serta sub-sub judul bab utama. Serta memperhatikan organisasi bab tersebut.
2. Question : Membuat pertanyaan
Misalnya :
Apabila kita membaca untuk menjawab sejumlah pertanyaan maka kita akan membaca lebih hati-hati serta seksama dan kita akan mengingat lebih baik apa yang kita baca. Dalam survey yang kita lakukan terhadap tugas, mungkin telah kita temui beberapa butir yang telah membangkitkan rasa ingin tahu kita.
3. Read : Membaca
Misalnya :
Seperti yang kita ketahui , setiap paragraf mengembangkan satu pikiran pokok . kalau kita menggabungkan keseluruhan pikiran pokok menjadi satu kesatuan,maka tercerminlah ide-ide utama dari serangkaian paragraf-paragraf dalam satu bab.
4. Recite : Meringkas
Misalnya :
Kita dapat meyakinkan diri sendiri bahwa kita dapat membayangkan atau memvisualisasikan bacaan yang telah kita baca, dengan kata lain menceritakannya kembali setiap isi dan bagian-bagiannya. Semakin cermat dan teratur kita membaca dan mengingatnya, maka semakin tinggi pula taraf penguasaan kita terhadap bacaan tersebut..

5. Review : Mengulang
Misalnya :
Memeriksa kembali keseluruhan bagian, jangan diulang baca. Tetapi hanya melihat judul-judul, gambar-gambar diagram-diagram , tinjau kembali pertanyaan-pertanyaan, dan sarana-sarana studi lainnya, untuk menyakinkan bahwa kita telah mempunyai suatu gambaran yang lengkap mengenai tugas atau bacaan.
2. Desain
Berikut ini batasan umum yang dapat dijadikan pedoman pada saat menentukan desain LKS.
1.Ukuran LKS adalah A4 siswa akan mempuyai cukup ruang untuk membuat bagan. jika anda menentukan ukuran LKS adalah A5 (setengah kuarto), siswa akan kesulitan membuat bagan karena ruangan yang tersedia sangat terbatas.
2.Kepadatan Halaman
Halaman yang terlalu padat akan mengakibatkan siswa memfokuskan perhatian.
3.Kejelasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jelas berarti terang, nyata,gamblang.Kita harus dapat memastikan materi atau instruksi yang diberikan dalam LKS dapat dengan jelas dibaca siswa. Sebaik apa pun materi yang disiapkan tetapi jika siswa tidak dapat memahami atau membacanya maka LKS tidak memberikan hasil yang optimal. Misalnya halaman LKS tidak berurutan sehingga membuat siswa bingung, atau pembahasan materi yang di ketik terbolak-balik.


3. Prosedur Pengembangan
Ada empat langkah dalam mengembangkan LKS yaitu :
a. Tentukan Tujuan Instuksional yang Akan dIturunkan dalam LKS
Berdasarkan tujuan instruksional ini, tentukan desain LKS
Desain LKS
Ukuran : A4
Pengorganisasian :
1.Penjelasan cara menghadapi LKS
2.Uraian materi
3.kerja siswa


b.Pengumpulan bahan
Dapat menentukan materi atau bahan dan tugas yang akan dimuat dalam LKS. Misalnya , memuat materi membaca. Lalu menentukan rincian tugas yang harus dilakukan siswa, misalnya :
a.Siswa mampu menjelaskan pengertian membaca
b.Siswa dapat menjelaskan jenis-jenis membaca
c.Siswa memahami hubungan membaca dengan imu lain.
c.Penyusunan Elemen
Mengintegrasikan desain (hasil dari langkah pertama) dengan materi dan tugas (sebagai hasil dari langkah kedua).
d.Cek dan Penyempurnaan
Ada empat variabel yang harus dilihat sebelum LKS dibagikan ke siswa. Keempat variabel tersebut sebagai berikut.
a.kesesuaian desain dengan tujuan instruksional. pastikan desain yang ditentukan dapat mengakomodasi pencapaian tujuan instruksional.
b.Kesesuaian materi dengan tujuan instruksional. Pastikan materi yang dimuat dalam LKS (baik yang dikembangkan sendiri maupun yang didapatkan dari bahan yang sudah ada) sesuai dengan tujuan instruksional yang ditargetkan.
c.Kesesuaian elemen dengan tujuan instruksional. Pastikan tugas dan latihan yang anda berikan menunjang pencapaian tujuan instruksional.
d.Kejelasan penyampaian . Apakah LKS mudah dibaca, apakah tersedia cukup ruang untuk mengerjakan tugas yang diminta

Kesimpulan

Pengembangan dan pemanfaatan modul sangat bergunan diterapkan dalam proses pembelajaran dalam rangkan mencapai mutu atau kualitas hasil pembelajaran yang baik efektif. Dalam pengembangan Modul kita akan dipersiapkan mengenai hal-hal yang harus kita persiapkan sebelum mempelajari modul. Sementara itu ada beberapa model atau cara dalam mengembangkan modul dalam proses pembelajaran.
Selain modul, kita perlu membuat ulasan kembali dari materi yang dibahas dalam modul tersebut yang dinamakan handout yang juga akan menguatkan ingatan kita terhadap materi yang dibahas. Terlepas dari itu semua kita perlu mengembangkan dan pemanfaatan LKS (Lembar Kerja Siswa), karena melalui LKS siswa akan terpancing untuk aktif dengan materi yang dibahas. Pemanfaatan LKS adalah dengan menerapkan metode SQ3R.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar